<p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="EN-US" style="font-family:"Times New Roman",serif">DALUNG (24/07/2026) – </span></b><span lang="EN-US" style="font-family:"Times New Roman",serif">Kegiatan Penilaian Ogoh-ogoh Desa Adat Dalung pada Minggu (22/2) yang bertempat di Balai Banjar Tegeh sukses diselenggarakan. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Yowana Desa Adat Dalung beserta anggota, Ketua ST. Yowana Wira Sentana beserta anggota, serta dewa juri penilaian Ogoh-ogoh yaitu Dr. Komang Indra Wirawan, S.Sn., M.Fil.H., I Wayan Juliarta, dan I Made Adnyana Putra. Kegiatan ini berlangsung meriah dan mendapat antusiasme tinggi dari seluruh peserta serta masyarakat yang hadir.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-family:"Times New Roman",serif">Adapun maksud dan tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk melestarikan seni dan budaya Bali melalui kreativitas yowana, memberikan wadah bagi generasi muda untuk menyalurkan bakat dan kemampuan mereka dalam membuat Ogoh-ogoh, serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan tanggung jawab dalam rangkaian persiapan Hari Raya Nyepi. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan sebagai ajang edukasi bagi masyarakat tentang makna spiritual Ogoh-ogoh dan pentingnya menjaga tradisi budaya Bali agar tetap hidup dari generasi ke generasi.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="EN-US" style="font-family:"Times New Roman",serif">Banjar Tegeh mengangkat tema ogoh-ogoh “Sang Prabu Mayadenawa” yang mengisahkan tentang seorang raja sakti namun angkuh yang menolak keberadaan para dewa dan melarang masyarakat melakukan persembahyangan. Dalam kisahnya, Prabu Mayadenawa menyalahgunakan kekuatannya untuk kepentingan pribadi hingga menimbulkan ketidakseimbangan di dunia. Akibat kesombongan tersebut, para dewa kemudian turun untuk menumpas keangkuhan Prabu Mayadenawa demi mengembalikan keharmonisan dan keseimbangan alam. Kisah ini menggambarkan bahwa keserakahan dan kesombongan pada akhirnya akan membawa kehancuran, serta menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><span lang="FI" style="font-family:"Times New Roman",serif">I Gusti Ketut Putra Surya Mataram selaku Kelian Adat Tegeh menjelaskan mengenai tema ogoh-ogoh yang diusung. “<b><i>Tema ogoh-ogoh yang diangkat, yaitu Sang Prabu Mayadenawa, memiliki makna mendalam sebagai pengingat bagi masyarakat agar tidak bersikap sombong dan menyalahgunakan kekuasaan,” </i></b>ujarnya.  Ia menjelaskan bahwa melalui tema ini, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya menjaga keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan. Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada para Seka Truna yang telah bekerja keras dan menunjukkan kekompakan dalam proses pembuatan ogoh-ogoh tersebut. Ia berharap semangat kebersamaan dan kreativitas generasi muda dapat terus dijaga sebagai bagian dari pelestarian seni dan budaya Bali.</span></span></span></span></p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"> </p> <p style="text-align:justify; margin:0cm"><span style="font-size:11pt"><span style="line-height:normal"><span style="font-family:Arial,sans-serif"><b><span lang="FI" style="font-size:12.0pt"><span style="font-family:"Times New Roman",serif">(KIMDLG-005). </span></span></b></span></span></span></p>
Br. Tegeh Ikuti Penilaian Ogoh-ogoh Desa Adat
24 Jul 2026